Apakah Istri Memiliki Kewajiban untuk Melayani Suami?

Ma171#
Bismillah,

Mau tanya ustadz, apa betul kewajiban suami untuk menyediakan makanan sehingga tidak ada kewajiban memasak untuk istri?

Jawab :

Ulama berbeda pendapat tentang masalah istri melayani suami, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah dll. Yang disebutkan dibanyak kitab diantaranya roudhatul thoolibin, mughnil muhtaaj, nihaayatul muhtaaj, hawaasyi asy-syarwani dll.

Dan pendapat yang kuat, bahwa hal tersebut adalah merupakan kewajiban istri terhadap suami.

Ibnul Qoyyim dalam kitabnya zaadul ma’aad menjelaskan :
Pasal :
“Penjelasan tentang hukum Rasulullah berkaitan dengan wanita yang melayani suaminya, ibnu habib (dalam kitabnya al-waadhihah) berkata, Rasulullah pernah memutuskan perkara antara Ali dan istrinya fatimah, ketika keduanya mengadukan kepada beliau tentang pelayanan. Maka Rasulullah memutuskan bahwa fatimah berkewajiban untuk menjalankan urusan dalam rumah, sedangkan ali berkhidmah urusan-urusan diluar rumah.
Kemudian Ibnu habib meneruskan perkataannya, yang dimaksud urusan rumah adalah, semisal : membuat adonan roti, memasak, merapikan tempat tidur, manyapu rumah, menyiapkan air dan semua urusan rumah.

Dan disebutkan dalam shahih (Bukhari dan Muslim), dari Ali beliau berkata, ”Bahwasannya Fatimah, mendatangi Rasulullah, mengadukan kepada beliau keadaan kedua tanganya yang membekas karena mengenai alat putar penggilingan, dan ia meminta seorang pembantu. Sesampainya di rumah Rasulullah, ia tidak mendapatkannya, hal itu disampaikan kepada Aisyah.
Ketika Rasulullah datang, beliaupun mendatangi rumah putrinya. Ali berkata, beliau datang kerumah kami disaat sudah mulai beristirahat, lantas kamipun bangun, beliau berkata,”tetaplah di tempatmu!!..”. Kemudian beliau duduk diantara kami.
Lalu bersabda, ”Maukah kalian berdua aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta? ketika kalian pergi ketempat tidur, maka bertasbihlah 33x, bertahmidlah 33x dan bertakbirlah 34x, itu lebih baik dari pada seorang pembantu”.(HR. Bukhari).

Dan juga riwayat yang shahih dari Asma, bahwa ia berkata, ”Aku dulu melayani Zubair (suaminya) semua urusan rumah, ia memiliki seekor kuda, dan akulah yang memeliharanya, aku mencari rumput untuknya dan yang menyediakan kebutuhannya yang lain.

Riwayat shahih menyebutkan bahwa beliau memberi makan kuda tersebut, memberinya minum, menambal ember, membuat adonan dan memindahkan biji-bijian dengan disunggi diatas kepalanya sejauh 2/3 farsakh.

Untuk itulah sebagian ulama salaf dan khalaf mewajibkan wagi wanita untuk melayani suami dalam urusan rumah.

Abu Tsaur berkata,” kewajiban seorang istri adalah melayani dalam segala hal”.

Sedangkan sebagian ulama tidak mewajibkan hal tersebut (melayani suami), ini adalah pendapat imam malik, syafii dan abu hanifah dan madzhab dhahiriyah, mereka berkata,”Karena akad pernikahan adalah akad untuk penghalalan dalam hal kenikmatan suami istri, bukan akad untuk pelayanan.

Sedangkan hadist-hadist tersebut, bermakna sebagai bentuk perbuatan tambahan (tathawwu’) kebaikan dan akhlaq yang mulia dari seorang istri (bukan karena hal tersebut merupakan kewajibannya).
Sedangkan ulama yang mengatakan hal tersebut wajib, berpendapat, bahwa hal itu merupakan berbuatan ma’ruf yang wajib dikerjakan oleh seorang istri.

Dan istri yang bersenang-senang dan bersantai-santai sedangkan suami yang bekerja melayaninya, berupa membersihkan rumah, membuat adonan, membereskan tempat tidur dan urusan2 rumah tangga yang lain adalah sebuah kemungkaran.
Allah berfirman :
(وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ)
“Dan bagi mereka (para istri) mendapatkan kebaikan seperti kewajiban yang harus mereka kerjakan”.(Qs. Al-baqarah 228).

Dan Allah juga berfiman,
وقال تعالى: (الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ) [النساء:34].
“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita”.(Qs. An-nisa 34).

Maka jika ada seorang istri tidak mau melayani suaminya, tapi justru sebaliknya dimana suami yang melayani istrinya, hal itu berarti istrilah yang menjadi pemimpin, bukan suaminya (dan ini tentunya menyalahai ayat tersebut diatas).

Sedangkan mahar adalah timbal balik dari dihalalkannya berhubungan intim, dimana dari kedua belah pihak (suami istri) mendapatkan apa yang diinginkan, sedangkan maksud Allah mewajibkan bagi suami untuk menafkahi istrinya, memberi pakaian, dan tempat tinggal dll, itu timbal baliknya adalah istri mau melayan suaminya, menyediakan apa yang dibutuhkannya.

Dan akad nikah termasuk akad-akad yang mutlak, maka harus dikembalikan kepada ‘urf (adat), dimana ‘urf wanita adalah melayani dan mengurusi urusan-urusan rumah tangga.
Sedangkan kalau mereka mengatakan bahwa apa yang dilakukan Fatimah dan Asma adalah bentuk kebaikan dari beliau berdua (bukan karena kewajiban). Hal tersebut tidak bisa dibenarkan, karena ketika Fatimah mengadukan masalah pelayanan ke dapan Rasulullah, maka Rasulullah tidak berkata kepada Ali, ”Ya Ali, tidak ada kewajiban baginya untuk melayanimu, tapi itu adalah kewajibanmu”.
Sedangkan Rasulullah tidak berpihak kepada siapapun dalam masalah hukum.
(sabda Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa apa yang dikerjakan oleh fatimah (melayani suaminya) adalah benar).

Dan ketika beliau melihat Asma membawa pakan ternak diatas kepalanya (menyunggi) sedangkan Zubair bersamanya, beliau tidak berkata, ”Tidak ada kewajiban baginya untuk melayani (mu wahai zubaira), ini adalah kedhaliman,”. Tapi beliau menyetujui hal tersebut (apa yang dilakukan asma dan tidak melarang melakukannya).

Dan beliau juge menyetujui sikap para shahabat yang membiarkan istri-istri mereka, melayani mereka.

Dan beliau mengetahui bahwa diantara mereka (istri-istri tersebut) ada yang rela dan ada pula yang tidak rela dengan hal tersebut. Ini adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi.

Dan tidak boleh membedakan antara wanita yang bermartabat dengan wanita yang biasa, antara wanita yang kaya dan wanita yang miskin.(semuanya berkewajiban untuk melayani istri).

Ini adalah contoh yang nyata, seorang wanita yang paling bermartabat dan paling mulia dialah Fatimah, (meskipun dengan kedudukan dan martabatnya yang tinggi dan mulia) ia tetap melayani suaminya. Ia datang kepada Rasulullah untuk mengadukan masalah pelayanan, tapi Rasulullah tidak menaggapi pengaduan tersebut.

Dan dalam hadist juga disebutkan bahwa Rasulullah memberikan gambaran sifat wanita seperti seorang tawanan, dimana tabiat tawanan adalah melayani tuannya/orang yang menawannya.
Rasulullah bersabda,”
“اتقوا الله في النساء، فإنهن عوان عندكم”
“takutlah kalian kepada Allah dalam masalah wanita, karena sesungguhnya mereka adalah tawanan-tawanan kalian”.

Maka jelaslah, bahwa inilah pendapat yang kuat.
Allahulam bishowab.

Fatwa syekh jibrin :
Syekh jibrin ditanya,
Apakah merupakan kewajiban bagi seorang istri untuk memasak makanan untuk suaminya?, jika hal tersebut tidak ia lakukan apakah ia termasuk bermaksiat?
Jawab :

Sudah menjadi kebiasaan bagi kaum muslimin, bahwa seorang istri berkewajiban untuk melayani suami, dalam hal yang menjadi kebiasaan berdua, seperti menyiapkan makanan, mencuci pakaian, alat makan dan dapur, membersihkan rumah dan semisalnya. Dan ini adalah kebiasaan yang sudah berjalan sejak zaman nabi hingga zaman kita ini, dan tidak ada yang meningkarinya.
Akan tetapi yang juga harus diperhatikan adalah, jangan sampai membebani istri diluar kemampuannya.
(fatwa islam jawab wa sual).

Allahualmbishowab.

Dijawab oleh Ustadz Mustofa Ahmada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s