Shalat Jenazah

Shalat Jenazah

Tahukah Anda keutamaan Menshalatkan Jenazah?

Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda,”Barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga ikut menshalatkannya, maka dia mendapatkan satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga ikut mengantar ke kubur, maka mendapatkan dua qirath”. Ditanyakan, “Apakah yang dimaksudkan dengan dua qirath itu? ” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Bagaimana tata caranya?

Secara ringkas, shalat jenazah terdiri dari 4 takbir yang kemudian diakhiri dengan salam.

– Takbir yang pertama, yaitu takbiratul ihram, mengucapkan ta’awudz dan al-Fatihah tanpa doa iftitah.[1]

– Takbir yang kedua, bershalawat kepada Nabi. [2]

– Takbir yang ketiga, berdoa bagi mayit.[3]

– Kemudian takbir yang keempat (terakhir), berhenti sejenak, salam [4].

Semoga bermanfaat.

Wallahua’lam

=============
Cat:

[1] Thalhah bin Abdillah bin ‘Auf berkata: “Aku pernah shalat jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas, ia membaca Al-Fatihah dan surah lain. Ia mengeraskan (menjahrkan) bacaannya hingga terdengar oleh kami. Ketika selesai shalat, aku memegang tangannya seraya bertanya tentang jahr tersebut. Beliau menjawab: “Hanyalah aku men-jahr-kan bacaanku agar kalian mengetahui bahwa (membaca Al-Fatihah dan surah dalam shalat jenazah) itu adalah sunnah dan haq (kebenaran)”. Ibnu Qudamah berkata: “Bacaan (qira`ah) dan doa dalam shalat jenazah dibaca secara sirr. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini di kalangan ahlul ilmi. Adapun riwayat dari Ibnu ‘Abbas di atas, maka kata Al-Imam Ahmad: ‘Hanyalah beliau melakukan hal itu (men-jahr-kan bacaan) untuk mengajari mereka’.” (Al-Mughni, fashl Al-Israr bil Qira`ah wad Du’a` fi Shalatil Janazah). Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Jumhur ulama berpendapat tidak disunnahkan menjahrkan bacaan dalam shalat jenazah.” (Nailul Authar 4/81)

[2] Minimalnya adalah “Allahumma sholli ‘ala Muhammad”. Al-Mughni, fashl Al-Israr bil Qira`ah wad Du’a` fi Shalatil Janazah, Asy-Syarhul Mumti’, 2/526.

[3] Menurut pendapat jumhur ulama. (Al-Minhaj 7/34) Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian menshalati mayat, khususkanlah doa untuknya.” Kata Al-Munawi menerangkan makna hadits di atas: “Yakni doakanlah si mayat dengan ikhlas dan menghadirkan hati karena maksud dari shalat jenazah tersebut adalah untuk memintakan ampun dan syafaat bagi si mayat. Diharapkan permintaan tersebut akan dikabulkan dengan terkumpulnya keikhlasan dan doa dengan sepenuh hati.” (Catatan kaki Ahkamul Janaiz, hal. 156)

[4] Dari dua rujukan yang saya temui, terdapat perbedaan apakah berdoa kembali pada takbir terakhir ataukah tidak. Yang jelas terdapat hadits dari Abu Ya‘fur dari Abdullah bin Abi Aufa ia berkata: “Aku menyaksikan Nabi shallallahu’alihi wasallam (ketika shalat jenazah) beliau bertakbir empat kali, kemudian (setelah takbir keempat) beliau berdiri sesaat.” (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi (4/35) dengan sanad yang shahih, kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Jana`iz). Al-Imam Ahmad berpendapat disunnahkan berdoa setelah takbir terakhir ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Masa`il Al-Imam Ahmad (153). Demikian pula pendapat dalam madzhab Asy-Syafi‘iyyah. (Ahkamul Jana`iz, hal. 161).

sumber:
http://ift.tt/1rDxmSb
http://ift.tt/QOrXdW
http://ift.tt/1rDxmSf From: Lutfi Aziz Firdaus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s