Serba-serbi Pemilu

Ana nemu ini :

Maramis Setiawan
8 hours ago near Toeban 
Pengimbang pendapat Ust Firanda yg jadi hot topic baru-baru ini…..

Ust Kholid Syamhudi:

Yang perlu dipertimbangkan juga bahwa proses penghitungan suara di Pemilu Legislatif (UU No. 8 Tahun 2012) dan Pemilu Presiden tahun 2014 (UU No. 42 Tahun 2008) ini tidak sama. Sementara fatwa ‘ulama yang sampai pada kita selama ini cenderung lebih tepat untuk kondisi Pemilu Presiden di mana lebih sesuai dengan aplikasi pemilu yang berlaku secara umum di berbagai negara, termasuk negeri kaum muslimin.

Sementara di Indonesia untuk Pemilu legislatifnya berbeda sama sekali. Bahkan sebagian besar masyarakatnya pun masih belum memahami mekanisme yang berlaku di dalamnya. Begitu pula jika kita tanyakan kepada sebagian besar ikhwah di antara kita ketika mendengar kata Pemilu maka bayangan yang muncul itu mirip dengan voting, suara terbanyak yang menang. Padahal serta merta tidak demikian.

Perlu juga disepakati dahulu tentang hukum asal Demokrasi dan Pemilu itu sendiri, apakah halal atau haram. Jika halal, maka tentu tidak perlu diperdebatkan lagi. Tapi jika semua sudah sepakat atas keharamannya, maka tentu agar bisa menjadi boleh dilakukan apalagi menjadi wajib harus betul-betul diketahui bahwa apabila hal itu tidak dilakukan akan berakibat buruk bagi kaum muslimin. Jangan sampai terlanjur melakukan larangan itu, namun tidak tepat sasaran yang bahkan bisa dilihat dari awal prediksi.

Selanjutnya perlu dipetakan tujuan dari keikutsertaan kita pada Pemilu itu sendiri. Apakah untuk mencegah tokoh syi’ah masuk parlemen, apakah untuk mencegah orang kafir jadi pemimpin (baik negara, provinsi, atau di bawahnya), apakah untuk memilih presiden yang lebih baik agama dan lebih mampu mengurus negara. Karena perbedaan tujuan ini tentu bisa membawa perbedaan dalam penyikapan. Kurang tepat jika kemudian dimutlakkan kebolehannya apalagi mewajibkannya padahal tujuannya saja berbeda dan sistemnya saja beda.

Studi Kasus Pertama : misalnya untuk mencegah Jalaluddin Rahmat menjadi Anggota L
egislatif. Apakah dengan memilih PKS menjadi solusi? Tentu tidak. Yang logis adalah sebagian kaum muslim memilih caleg PDI P nomor urut 2, sebagian lagi memilih caleg PDIP nomor urut 3, sebagian lagi memilih caleg PDIP nomor urut 4 yang berada di Dapil yang sama dengan Jalal. Diharapkan ketiga caleg tersebut mendapat suara lebih tinggi dari punya Jalal di Dapilnya sehingga peluangnya ke Senayan menjadi kecil. Inipun tidak mudah, dikarenakan hampir dapat dipastikan bahwa suara syi’ah akan satu dan bulat mendukung Jalal. Sementara suara kaum muslimin di Jabar 1 (Dapil Jalal) terpecah ke ratusan calon lainnya dari berbagai partai.

Studi Kasus Kedua : mencegah Jokowi jadi RI 1 dengan harapan agar Ahok tidak menjadi Gubernur DKI. Maka sebagai solusi yang paling logis adalah dengan milih Parpol yang menjadi musuh utama PDIP, yaitu Gerindra atau Demokrat. Tujuannya agar partai tersebut suaranya terangkat sehingga peluang untuk dapat mencalonkan presiden sendiri bisa lebih terealisir. Inipun tidak mudah mengingat elektabilitas Jokowi sangat tinggi. Dalam salah satu studi, yang mampu mengimbangi elektabilitas Jokowi saat ini adalah duet Prabowo dan Dahlan Iskan. Belum lagi jika pada pilpres nanti PKS tertarik tawaran PDIP untuk menduetkan Jokowi dengan Aher. Maka akan tidak efektif Pemilu Legislatif yang kita ikuti dengan memilih, bermaksud untuk meminimalisir suara PDIP namun justru malah menjadi mitra koalisinya.

Maka, himbauan untuk turut serta pemilu yang masih ngambang gini sangat tidak efektif dan tidak tepat sasaran. Karena tujuan pun hampir dapat dipastikan tidak akan tercapai, kecuali sebatas melepaskan diri dari beban memilih tokoh yang buruk. Itu saja. Akan lebih solutif dan lebih logis manakala himbauan untuk turut serta pada Pemilu itu diserta detail : antum memilih caleg nomor urut 1 pada partai A di masing-masing Dapil antum.

Akhir kata, hendaknya masalah ini tidak merusak ukhuwah antara yang satu dengan yang lain. Tidak menjadikannya sebagai dasar penerapan al-wala’ dan al-bara’. Bagi yang tidak ingin i
kut serta, maka hendaknya dengan ‘ilmu. Dan bagi yang ikut serta, maka hendaknya di atas ‘ilmu. Yang lebih penting lagi, perkara seperti ini tidak menjadikan kita lalai dalam menuntut ‘ilmu, belajar aqidah, menghadiri ta’lim dan kegiatan ilmiah rutinitas lainnya.

barokalloohu fiykum.

-copas dari grup wasap-

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203507130935811&id=1140110499&refid=17

https://m.facebook.com/BuletinDakwahAlMinhaj/photos/a.343309045693007.84820.335734256450486/764042420286332/?type=1&refid=52&_ft_=qid.6000060767667727427%3Amf_story_key.8836296066862662505
Khabar shahih dr ust yazid حفظه الله yg dibawakan olh akun FB masjid imam ahmad, msh hangat jg :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=710588198963881&id=163067317049308&refid=17
PEMILU HASANAH

Kepanikan para ABG yg baru mau mencoblos tahun ini, sudah tidak terbendung.

Opini fatwa ulama terus digulirkan dalam rangka mencipta image PEMILU HASANAH.

Usia yg relatif muda ditambah wawasan hidup yg masih hijau, membuat mereka galau.

Adapun asumsi mereka itu itu aja, diantaranya :

1. Ketakutan kafir menguasai negara.

Tidakkah mereka melihat dari aparat pemerintah dan keamanan adalah muslim.Dari tukang sapu sampai presidennya muslim.Dari prajurit sampai jendralnya muslim.
Ah dasar ABG….

2. Adanya fatwa ulama.

Sebenarnya fatwa ulama membolehkan kalau darurat memang NYATA bukan KHAYALAN.

Tetapi Pertanyaan kepada ulama DIKONDISIKAN indonesia darurat.

Tentu saja para ulama “menganjurkan” nyoblos.Coba kalo pertanyaannya :Ya Syekh negeri kami mau pemilu dari tahun ke tahun aman aman saja, nyoblos nggak nyoblos sama aja.
Bahkan partai dakwah saja sudah gulung tikar aqidahnya, juga partai kafir PDS sudah bangkrut, bagaimana pendapat anda ya Syekh ?
Tentu jawabannya akan lain.Cobalah perhatikan isi pertanyaan kepada ulama, penuh dengan ketakutan.
Ah dasar ABG…

3. Alasan darurat.

Yg MEMVONIS DARURAT adalah aparat keamanan atau ulama.

Aparat keamanan santai santai saja. Ulama tidak melihat mudharat yg mengkhawatirkan.

Hanya para ABG saja yg menyebarkan BERITA SERAM lewat media sosial.

Yang serem tahun 48, 65, 74, 84, 98 itu pun cuma sebagian daerah.
Ah dasar ABG…

4. Takut syiah.

Ini lebih parah lagi, bikin ndak bisa tidur. Padahal calegnya cuma 10 ekor dari 200000 caleg yg ada. Itu pun kalo mereka lolos semua. Rapuh sekali iman dan tauhid, MANA NYALI Ahlus sunnah. Ah dasar ABG.

dalam urusan dunia…PENGALAMAN ADALAH GURU YANG PALING BAIK

 Ust. Ilham Tabrani حفظه الله تعالى

Om agung : bener dr fb beliau insya Alloh, nih linkny :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=608154639279342&id=100002544330192

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s