Aku dan PKS

Sejak aku Sekolah Dasar (sekitar kelas 3 atau 4) aku adalah seorang simpatisan PK (Partai Keadilan). Aku pertama kali mengenal PK dari seorang guru favoritku yang jago bermain bola. Bahkan aku merasa heran, mengapa ayahku mendukung PAN? Akan tetapi, aku tetap menikmati masa-masa yang melelahkan berpawai bersama ayahku seharian untuk PAN, karena bagiku, baik PAN maupun PK yang terpenting adalah partainya mendukung Islam.

Ketika Pemilu 1999 berakhir, aku sedih karena ternyata PK tidak memenuhi jumlah suara minimum agar partai tersebut tetap eksis di negeri ini. Lantas, partai mana yang dapat memperjuangkan syari’at Islam? Akan tetapi, hati ini kembali berbunga, ketika aku mengetahui bahwa PK kembali berlaga di kancah perpolitikan untuk memperjuangkan Islam dengan nama yang baru, yaitu PKS. Bagiku, apalah arti sebuah nama, yang penting partainya tetap memperjuangkan Islam.

Semakin bertambah dewasa, semakin aku banyak berkenalan dengan orang-orang PKS. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda-pemuda yang rajin memakmurkan masjid. Bahkan aku semakin salut pada pemuda-pemuda PKS yang membuka percetakan di tempat ayahku. Tidak pernah mereka ketinggalan pergi ke masjid, suka mengajari aku menggunakan tools2 desain di komputer walaupun mereka menyadari aku tidak memiliki bakat seni. Ayahku pun menjadi simpatisan PKS ketika itu, mungkin karena kesolehan pemuda-pemuda PKS di tempat ayahku. Bahkan proyek kampanye PKS di daerah lain pun pernah dilakukan di percetakan tersebut, dengan omset yang sangat besar bagi saya ketika itu.

Tibalah pemilu 2004, aku kembali menaruh harapan pada partai ini. Aku sebetulnya tidak terlalu paham mengenai politik, aku hanya melihat orang-orang PKS yang aku kenal, sangat baik akhlak dan ibadahnya. Aku masih belum bisa berpartisipasi saat itu, tetapi aku berharap PKS dapat meraih suara yang banyak. Hasil dari pemilu 2004 pun memuaskan bagiku, setidaknya kali ini PKS tidak lagi harus tereleminasi dari ajang perpolitikan dan SBY-JK terpilih sebagai presiden dan wakil presiden mengalahkan Megawati.

Ketika memasuki masa SMA, aku mulai mengenal berbagai macam pergerakan. Ada Salafi, PKS (IM), HTI, dan NII. Aku pribadi hanya mengenal lebih dekat Salafi dan PKS (IM) karena mereka yang membinaku ketika itu. Tetapi aku merasa lebih nyaman dengan manhaj Salafi meskipun aku tetap mengikuti pembinaan di PKS karena selalu ada ilmu yang dapat diambil, dan akupun merasa sebagai simpatisan PKS. Pilwalkot Bandung 2008 adalah kali pertama aku memberikan suaraku pada PKS. Walaupun ternyata hagemoni calon incumbent yang terlalu kuat untuk dikalahkan membuatku kecewa. Tetapi itulah demokrasi, pilihanku belum tentu melaju.

Pada Pemilu 2009, aku mulai lebih perhatian terhadap calon yang diusung PKS, karena sebelumnya aku dikecewakan oleh langkah PKS yang menjadi Partai Terbuka. Hal tersebut membuatku bertanya-tanya mengenai keseriusan PKS untuk menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi, bagiku PKS tetap pilihan terbaik dan tanpa ragu JK aku pilih sebagai presidenku, tetapi hasil demokrasi  kembali berkata lain.

Akan tetapi, semakin kesini, rasanya semakin jauh harapanku agar PKS menegakkan syari’at Islam di pemerintahan. Bagaimana mungkin syari’at Islam tegak di tangan orang-orang kafir? Bagaimana mungkin Allah ridha terhadap ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan) yang dilakukan ketika kampanye hingga berdesak-desakan? Ditambah dengan joget gangnam style baik laki-laki maupun perempuan tanpa rasa malu? Hampir aku buang suaraku jika saja di saat-saat terakhir aku tidak bertanya pada ustadz yang membimbingku. Belum lagi acara ulang tahun PKS yang diwarnai dengan lagu reggae disertai joget dari kader partainya. Dan lagi rasa bangga terhadap  sambutan dari “saudara”-nya paduan suara gereja. Sedih hatiku melihat ini. Terlebih lagi pembelaan buta dari saudara-saudaraku kader dan simpatisan PKS yang lain. Tidakkah engkau mengingkari hal tersebut?

Tanpa menafikkan kebaikan PKS yang banyak dalam mendakwahkan Islam di bumi Indonesia, sikap PKS di pemerintahan terasa begitu memuakkan.

Ingin rasanya PKS kembali seperti dulu, sehingga tak perlu lagi ragu untuk mendukungnya. Harapan itu tetap masih ada, meskipun sepertinya cahaya diujung sana semakin pudar.

Salam dari saudaramu yang ber-wala dan bara denganmu karena Allah (insyaa Allah). 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s