Sebuah Analisis dari Debat Ilmiah HangFM dan Aswaja-Batam

#Banyak dr diskusi tsb belum tuntas spt masalah bid’ah poros masalahnya adalah pd bid’ah hasanah, pdseputar takhsis hadits kullu dg man sanna sunatan.

—>Menurut Ustadz Firanda hadits tsb bukanlah takhsis atas dalil2 bid’ah dikarenakan makna man sanna disitu adalah bukanlah ikhtira'(merintis amalan baru) namun adalah memulai sesuatu amal kebaikan yg kemudian diikuti oleh orang setelahnya (dg menukil penjelasan Imam Azhar dr kitab Tahdzibul Lughah) dan latar belakang hadits tersebut adalah perintah utk bershodaqah, sedangkan shodaqah bukanlah bid’ah.

—>Sedangkan menurut Ustadz Idrus “man sanna” disitu bukan konteks lughawi/bahasa, namun Syara’karena posisinya sbgm man sanna itu ditinjau dr ta’rif syara’. Beliau jg menyampaikan bahwa dlm hadits tsb yg dijadikan ibrah itu bukan kekhususan sebab namun keumuman lafadh. Jadi tetap menurut Ustadz Idrul Ramli tetap hadits tsb bs dijadikan takhshish atas hadits kullu bid’atin dhalaalah.

Namun yg menarik adalah ketika membahas seputar contoh bid’ah yg disetujui Rasulullah spt pembacaan Qs. Al Ikhlash secara berulang2 dlm shalat yg disetujui Rasulullah, kemudian perilaku shahabat yg masbuk dlm shalat berjama’ah,

—>Ustadz Zainal Abidin menyebutkan bahwa hal itu tdklah bisa dijadikan sandaran dlm bid’ah, karena itu merupakan sunnah taqririyah (diantara Ulama Muhaditsin mendefinisikan Sunnah dg Qauliyah, Fi’iliyah dan Taqririyah-ed). Jadi tidak bisa (baca:relevan) dimasukkan dlm contoh bid’ah.

—>Sedangkan Ustadz Idrus Ramli dg menukil dr ucapan Ibnu Hajar hanya saja dia tafsiri sendiri bahwa sunnah taqririyah itu bisa dijadikan dasar dalam bid’ah hasanah.

Padahal Ustadz Zainal Abidin diawal diskusi pd mukaddimahnya menyebutkan bahwa dua hal seperti Tauhid Syirik, Ta’at dan maksiat dan Sunnah bid’ah tidaklah bisa bertemu, dan ini tidak disanggah oleh Utsadz Idrus Ramli.

Tanggapan : Meski belum tuntas diskusi masalah bid’ah ini namun menurut kami bahwa memang benar apa yg disampaikan Ustadz Zainal Abidin karena dua hal yg berbeda atau bahkan bertentangan tidak dapat disatukan atau dijadikan satu atau disamakan. Sebagaimana halnya Sunnah Taqririyah, maka para Ulama ketika membahasSunnah Taqririyah itu masuk dalam konteks Sunnah bukan konteks Bid’ah.

Makanya ketika Ulama membahas definisi Sunnah scr bahasa yg bermakna :

الطريقة و السيرة حسنة كانت أو قبيحة = Thariqah (jalan) atau sirah yg baik atau yg buruk.

Dan mereka mencontohkan pendefinisian tsb dg merujuk kpd Hadits Rasulullah diatas yaitu man sanna sunatan hasanatan. Sbgmn dalam kitab2 bahasa spt Mu’jam Maqayis Al Lughah (3/60-61) dimana Al Hudzaliberkata :

فالسنة في اللغة: هي الطريقة المسلوكة، محمودةً كانت أو مذمومة، ومنه قوله – صلى الله عليه وسلم -: (من سنَّ في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها من بعده.)

“Sunnah dalam Lughah adalah Thariqah yg ditempuh, baik yg terpuji maupun yg tercela sbgmn Sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik di dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakan sunnah tersebut setelahnya.’.”(demikian penjelasan Al Hudzali)

Sunnah juga dimaknai dg aadah (adat/kebiasaan) sbgmn firmanNya :سُنَّةَ مَن قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ

“Inilah sunnah orang yang telah Kami (Allah) utus sebelum engkau” (Qs. Al Israa; 77)

Namun sunnah dlm definisi syara’ dijelaskan berbeda2 oleh para Ulama yaitu antara Ulama Muhaditsin dan Ushuliyyin. Nah tidak ada di antara mereka yg menyamakan bahkan mencampur adukan antara definisi sunnah dan bid’ah scr syara’.

Makanya Imam Asy Syafi’i ketika membagi bid’ah menjadi bid’ah madzmumah dan mahmudah itu dikarenakan secara bahasa bid’ah memiliki makna yg sama dg sunnah yaitu thariqah mahmudah aw madzmumah sbgmn yg telah diterangkan oleh Ulama2 Syafi’iyyah spt

—>Ibnu Hajar AL Haitami dlm AL Fatawa Al Haditsiyahnya :

وقول عمر -رضي الله عنه- في صلاة التراويح : ” نعمت البدعة هي ” أراد البدعة اللغوية وهو ما فعل على غير مثال كما قال تعالى : ( ما كنتُ بِدْعا من الرسل ) وليست بدعة شرعية فإن البدعة الشرعية ضلالة كما قال -صلى الله عليه وسلم- ومن قسمها من العلماء إلى حسن وغير حسن فإنما قسم البدعة اللغوية ومن قال كل بدعة ضلالة فمعناه البدعة الشرعية

>>”Perkataan Umar radhiallahu ‘anhu perihal shalat teraweh “sebaik2 bid’ah adalah amalan ini” ygdimaksud adalah bid’ah dr sisi lughawi/bahasa yaitu suatu perbuatan yg tdk ada contoh sebelumnya sebagaimana firman Allah, “ Aku bukanlah rasul yg pertama diantara rasul2 (Qs. AL Ahqaf:9-pent)” BUKANbid’ah menurut syariah. Sedangkan bid’ah scr syariah adalah sesat (dhahalah) sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan barangsiapa di antara ulama yg membagi bid’ah kepada (bid’ah-pent) yang baik (hasanah maksudnya-pent) dan yg tidak baik (maksudnya madzmumah-pent) maka pembagian tsb adalh secara bahasa/lughawi sedangkan barangsiapa yg berkata setiap bid’ah adalah sesat maka maknanya adalah bid’ah dr sisi syariah

—>Senada dengan Imam Ibnu hajar AL haitami, Imam Madzhab Syafi’iyyah yg lainnya spt Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya :

والبدعة على قسمين تارة تكون بدعة شرعية كقوله فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وتارة تكون بدعة لغوية كقول أمير المؤمنين عمر بن الخطاب عن كم إياهم على صلاة التراويح واستمرارهم نعمت البدعة

Bid’ah terbagi menjadi dua macam terkadang dia merupakan bid’ah dr sisi syariah sbgmn sabdanya (shalallahu ‘alaihi wasallam-pent) “setiap perkara baru adalah bid’ah” dan terkadang merupakan bid’ah dari sisi bahasa/lughawi sebagaimana perkataan Amir Mukminin Umar bin Khaththab perihal amalan shalat taraweh para shahabat secara terus menerus “sebaik-baik bid’ah adalah amalan ini”

Jadi disimpulkan bahwa menurut hemat kami argumentasi Ustadz Firanda dan Zainal Abidin disini adalah yg lebih benar dan sesuai maksud dalil. Wallahu ‘alam

sumber:

https://www.facebook.com/groups/forum.diskusi.hadits/permalink/704464772905686/?comment_id=704512942900869&offset=0&total_comments=46

Kemudian masalah Qunut dan talafudz bin niyah sy setuju dg kedua ustadz yaitu Ustadz Idrus dan Ustadz Firanda hal itu adalah perkara ijtihadiyah, meski terakhir

—>Ustadz Zainal Abdin menyanggah pendalilan Ustadz Idrus Ramli soal hadits riwayat Anas bin Malik dimana Rasulullah berqunut pd shalat fajr hingga akhir hayatnya bahwa riwayat tsb lemah dikarena perawinya yg bernama Abu Ja’far Ar Razi yg disampaikan oleh Ulama Pakar dg perkataan shaduq namun sering salah.

—>Namun Ustadz Idrus Ramli tetap bersikeras bahwa riwayat tsb shahih dan Abu Ja’afar Razi itu tsiqah, padahal

——>Ustadz Zainal Abidin semenjak awal menjelaskan bahwa stressingnya bukanlah pd shaduq ataupun tidaknya Abu ja’far Ar Razi, namun pd sisi ke-dhabitannya.

====Dan memang benar dlm kitab Siyar karya Adz Dzahabi para Ulama pakar tdk menjarh keshaduq-annya namun dari sisi kedhabitannya :

وقال ابن المديني : هو عيسى بن أبي عيسى ، ثقة ، كان يخلط . وقال مرة : يكتب حديثه ، إلا أنه يخطئ

Ibnul Madini berkata : “dia adalah ‘Isa bin Abu ‘Isaatsiqah namun rusak hafalannya “. Beliau berkata ditempat lain “ditulis haditsnya hanya saja dia salah dalam periwayatan

Dan inilah yg dinukil Ustadz Zainal Abidin dr kitab taqribut tahdzib yg merupakan penyimpulan Al hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani atas komentar2 Ulama pakar jarh atas Abu Ja’far Ar Razi. Dan hal ini tidak disanggah oleh Ustadz Idrus Ramli

sumber : https://www.facebook.com/groups/forum.diskusi.hadits/permalink/704464772905686/?comment_id=704521336233363&offset=0&total_comments=46

Adapun masalah tahlil (stressingnya pada berkumpul2 dan menyajikan makanan dr keluarga mayyit) kedua pihak sepakat itu makruh, hanya saja berbeda dlm beberapa hal yaitu :

1. Apakah itu makruh tahrim ataukah makruh tanzih?

 2. Bagaimanakah penerapan dalam dakwah apakah ketika yg makruh itu menjadi ‘aadat maka tetap bisa dilanggengkan supaya tidak terjadi konflik dan perlawanan obyek dakwah?

—>Argumentasi dari Ustadz Firanda dan Ustadz Zainal Abidin bahwa itu adalah makruh tahrim dg menukil dr Kitab2 Mu’tabar Syafi’iyyah spt Ianatuth thalibin, sebuah pernyataan bahwa itu adalah bid’ah munkarah yg siapa saja mencegah hal tsb mendapat pahala.

Shg dari sini dipahami bahwa makruh yg dituju adalah makruh tahrim sbgmn yg dalil yg juga diajukan oleh Ustadz Firanda dari Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiallahu ‘anhu.

—>Ustadz Idrus Ramli menyanggah dengan menyatakan meski hal tsb makruh namun yg menjadi ‘illat adalahkarena menyalahi sunnah maksudnya menurut sunnah yg seharusnya yg menyajikan makanan adalah tetangga atau kerabat ahlu mayyit, namun pada praktisnya tahlilan yg dilakukan adalah tidak selalu makanan murni dari ahlu mayyit namun juga terkadang tetangga juga ikut “urun” dalam makanannya.

——>Hal ini disanggah Ustadz Firanda bahwa ‘illat dlm masalah itu bukan hanya satu itu saja namun ada dua hal lainnya yaitu :

1.Berkumpul setelah dimakamnya mayyit dan

2.Memperbaharui ratap dg mengingat2 terus kematiannya.

sbgmn yg ditunjukkan oleh Ustadz Firanda dari riwayat Jarir bin Abdullah Al bajaliy radhiallahu ‘anhu.

——>Dan hal ini tidak dapat disanggah oleh Ustadz Idrus Ramli beliau hanya berhujjah perihal contoh hikmah dakwah Rasulullah yg tdk menghancurkan ka’bah dikarenakan umatnya ketika itu baru saja meninggalkan masalah jahiliyah, beliau juga mencontohkan hal yg sama dr Ulama Salaf lainnya spt Imam Ahmad bin hanbal dll

———–>Hal ini dijawab oleh Ustadz Zainal bahwa yg dimaksud ditinggalkan oleh Rasulullah dan salaf disitu adalah hal2 yg sifatnya sunnah bukan dlm hal melaksanakan kemakruhan apalagi yg makruh tahrim.

Tanggapan :

Kami melihat memang dg melihat dalil2 yg diajukan Ustadz Idrus Ramli menunjukkan bahwa memang yg ditinggalkan adalah sunnah2 yg sekiranya dikerjakan mereka akan merasa aneh dan berat hingga muncul fitnah dan pelanggaran dan memang demikianlah hikmah Dakwah Allah dan RasulNya sbgmn yg disampaikan oleh Ummahatul Mu’minin Aisyah radhiallahu ‘anha dlm shahih Bukhari ketika ditanya perihal surat yg pertama turun menjawab :

ﺇﻧﻤﺎ ﻧﺰﻝ ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﻧﺰﻝ ﻣﻨﻪ ﺳﻮﺭﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻔﺼﻞ ، ﻓﻴﻬﺎ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺭ ، ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﺛﺎﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻧﺰﻝ ﺍﻟﺤﻼﻝ ﻭﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ، ﻭﻟﻮ ﻧﺰﻝ ﺃﻭﻝ ﺷﻲﺀ : ﻻ ﺗﺸﺮﺑﻮﺍ ﺍﻟﺨﻤﺮ ، ﻟﻘﺎﻟﻮﺍ : ﻻ ﻧﺪﻉ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﺃﺑﺪﺍ ، ﻭﻟﻮ ﻧﺰﻝ : ﻻ ﺗﺰﻧﻮﺍ ، ﻟﻘﺎﻟﻮﺍ : ﻻ ﻧﺪﻉ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﺃﺑﺪﺍ

“Surat Al Qur’an yang turun di masa awal adalah surat-surat pendek yang di dalamnya disebutkan surga dan neraka. Hingga Islam sudah menancap erat di hati orang-orang, barulah turun ayat mengenai halal dan haram. Andaikan saja yang turun di masa awal adalah ayat yang berbunyi ‘jangan engkau minum khamr’ tentu mereka akan berkata ‘kami akan minum khamr selamanya’. Andaikan ayat yang turun berbunyi ‘jangan kalian berzina’ tentu mereka akan berkata ‘kami tidak akan meninggalkan zina selamanya’”. (HR. Bukhari 1395, Muslim 19)

Al Hafidh Ibnu Hajar mensyarah riwayat tsb :

ﺃﺷﺎﺭﺕ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﺍﻹﻟﻬﻴﺔ ﻓﻲ ﺗﺮﺗﻴﺐ ﺍﻟﺘﻨﺰﻳﻞ ، ﻭﺃﻥ ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﻧﺰﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ، ﻭﺍﻟﺘﺒﺸﻲﺭ ﻟﻠﻤﺆﻣﻦ ﻭﺍﻟﻤﻄﻴﻊ ﺑﺎﻟﺠﻨﺔ ، ﻭﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﻭﺍﻟﻌﺎﺻﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺭ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺍﻃﻤﺄﻧﺖ ﺍﻟﻨﻔﻮﺱ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺃﻧﺰﻟﺖ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ

“Aisyah menerangkan hikmah Allah ta’ala di balik pengaturan susunan turunnya (ayat-ayat dan surat-surat al-Qur’ân).

(Surat atau ayat) al-Qur’ân yang pertama kali turun adalah dakwah kepada tauhid dan pemberian kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan taat; bahwa mereka akan dimasukkan ke surga. Juga ancaman bagi orang kafir; bahwa mereka akan dimasukkan ke neraka. Tatkala umat telah merasa mantap dengan hal itu, baru kemudian (ayat-ayat yang menjelaskan tentang) hukum-hukum (halal dan haram) diturunkan.

Sedangkan perihal macam dzikir berjama’ah seperti baca Al Quran, dzikir dan doa bersama makaperbedaannya adalah seputar pemahaman dalil2 yg umum apakah bisa diterapkan secara lazim dg pentakhshishan ataukah tidak?

Dari sini kiranya bahwa apa yg dinukil oleh Ustadz Zainal Abidin dari Sunan Kalijaga perihal kekhawatiran adat istiadat mjd agama kiranya lebih tepat dg maksud riwayat di atas bahwa tetap saja pada akhirnya hal2 umat diajak utk meninggalkan yg bid’ah yg makruh tsb (apalagi makruh tahrim) ketika hati mereka sudah mantap thd sunnah bukan malah dilanggengkan sbgmn argumentasi Ustadz Idrus Ramli (bahkan ditempat saya hal itu malah sudah menjadi sunnah dlm pengertian dianggap sunnah-ed).

sumber :

https://www.facebook.com/groups/forum.diskusi.hadits/permalink/704464772905686/?comment_id=704533896232107&offset=0&total_comments=46

Nah dari beberapa pembahasan di atas kiranya kami menyimpulkan bahwa Argumentasi2 Ustadz Firanda dan Ustadz Zainal Abdin lebih kuat dan mendekati kebenaran daripada Ustadz Idrus Ramli dikarenakan ada hal2 yg sbenarnya disepakati seperti persetujuan Rasulullah thd amalan shahabat sbg bentuk sunnah taqririyah dan bid’ah makruhnya tahlilan itu tidak diterapkan secara konsisten oleh Ustadz Idrus Ramli dlm implementasinya.

sumber :

https://www.facebook.com/groups/forum.diskusi.hadits/permalink/704464772905686/?comment_id=704537602898403&offset=0&total_comments=46

penulis      : Abu Khonsa

edit layout : Yahya Barasmiantun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s