Bolehkah Memelihara Anjing?

Cuma menanggapi pertanyaan teman tentang tulisan ini:
http://moslemdogloverrezairmansyah.blogspot.com/2013/01/nama-saya-rezairmansyah-saya-seorang.html

Sebenernya agak aneh itu tulisan,, dia mengaku bukan ustadz, bukan ‘alim, tapi berani make kata “menurut saya”,, klo kyk gitu mah bisa2 rusak agama ini gara2 pemahamannya terserah masing2,, hahaha

Pertama, mengenai akhlak terhadap hewan secara umum, Islam tentu melarang untuk menzhalimi atau membunuh hewan, kecuali ada alasan syar’i.

Dari Abu Ad Darda, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Andaikan perbuatan yang kalian lakukan terhadap binatang itu diampuni, maka ketika itu diampuni banyak dosa”. (HR. Ahmad)

Al Munawi menjelaskan makna hadits: “’Andaikan perbuatan yang kalian lakukan terhadap binatang itu diampuni’ maksudnya perbuatan memukul, menganiaya, dan memberi beban yang berlebihan. maka kalian itu sungguh banyak diampuni maksudnya banyak sekali dosa yang diampuni. Datang hadits ini adalah peringatan untuk tidak memberi gangguan pada binatang. Juga untuk tidak memberi beban yang terlalu berlebihan yang tidak sanggup diterimanya secara terus-menerus. Juga anjuran untuk tidak memukul binatang, lebih-lebih pada wajah, atau menyiksanya dengan senjata. Juga peringatan untuk tidak membiarkan mereka tidak makan dan tidak minum. Dan juga peringatan untuk tidak lalai dalam mengurusnya” (Faidhul Qadir, 5/321)

Syaikh Al Albani juga menerangkan makna hadits ini: “maknanya laragan dan peringatan terhadap perbuatan zhalim pada hewan. Jadi, andaikan si pemilik binatang yang tidak memiliki kasih sayang terhadap binatangnya itu dosanya diampuni, maka ketika itu sungguh telah diampuni dosa yang banyak. Karena ia tidak berkasih sayang pada hewannya tersebut

منْ لا يَرحمْ لا يُرحمْ

‘Barangsiapa tidak penyayang, ia pun tidak akan mendapat rahmat‘”
(rekaman Silsilah Huda Wan Nuur, rekaman no.209, pertanyaan no.15)

Kemudian, Islam membedakan anjing pemburu dan penjaga dengan anjing sekedar peliharaan.

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِى نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
“Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).
An Nawawi membawakan hadits di atas dalam Bab “Perintah membunuh anjing dan penjelasan naskhnya, juga penjelasan haramnya memelihara anjing selain untuk berburu, untuk menjaga tanaman, hewan ternak dan semacamnya.”

Itu kata Imam Nawawi, dan banyak pendapat ulama yg semisalnya,, intinya haramnya memelihara anjing selain untuk berburu dan menjaga tanaman dan ternak. Sedangkan untuk menjaga rumah, ada yang membolehkan tetapi merupakan pendapat yang lemah.

Ibnu Qudamah rahimahullah pernah berkata, “Tidak boleh untuk maksud itu (anjing digunakan untuk menjaga rumah dari pencurian) menurut pendapat yang kuat berdasarkan maksud hadits (tentang larangan memelihara anjing). Dan memang ada pula ulama yang memahami bolehnya, yaitu pendapat ulama Syafi’iyah (bukan pendapat Imam Asy Syafi’i, pen). Karena ulama Syafi’iyah menyatakan anjing dengan maksud menjaga rumah termasuk dalam tiga maksud yang dibolehkan, mereka simpulkan dengan cara qiyas (menganalogikan). Namun pendapat pertama yang mengatakan tidak boleh, itu yang lebih tepat. Karena selain tiga tujuan tadi, tetap dilarang. Al Qodhi mengatakan, “Hadits tersebut tidak mengandung makna bolehnya memelihara anjing untuk tujuan menjaga rumah. Si pencuri bisa saja membuat trik licik dengan memberi umpan berupa makanan pada anjing tersebut, lalu setelah itu pencuri tadi mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah”. (Al Mughni, 4/324)

Tapi emang orang itu sama sekali tidak menghadirkan dalil bolehnya memelihara hewan selain untuk berburu sih.. Hahaha

Kemudian mengenai liur dan bulu anjing, memang terdapat perbedaan pendapat ulama,, tetapi yg lebih kuat adalah air liurnya najis, sedangkan bulunya tidak. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, seperti Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad dalam salah satu riwayat. (Al-Fatawa Al-Kubro, 1:284 – 285)

Sedangkan mengenai penjelasan orang itu tentang “dongeng” bejana dan adab, saya rasa tidak bisa dijadikan dalil karena tidak ada sumbernya dan menyelisihi pendapat ulama.

Wallahu a’lam.

Rujukan:
http://www.konsultasisyariah.com/menyentuh-bulu-anjing/
http://kangaswad.wordpress.com/…/zhalim-terhadap…/
http://muslim.or.id/fiqh-dan…/hukum-memelihara-anjing.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s